Selasa, 16 Juni 2015

perbedaan antara e-commerce dengan retail convensional



Perbedaan E-Commerce dengan Retail Konvensional
1. Segi Pelayanan dan Pelanggan
Pada e-commerce, segi pelayanan pada pelanggannya bisa dikatakan lebih baik karena meskipun tidak melakukan tatap muka secara langsung dengan pelanggan, e-commerce menggunakan "private service" atau lebih menggunakan sistem tersendiri yang secara otomatis memprogram untuk pemilihan apa yang dibutuhkan pelanggan dari awal hingga akhir. sehingga pelayanan yang diberikan bisa lebih cepat, akurat dan nyaman, selain itu, perusahaan bisa mendapatkan lebih banyak pelanggan karena jangkauan e-commerce yang sangat luas dan tidak mengenal batasan wilayah, sedangkan pada retail konvensional, pelayanan ke pelanggan dirasakan lebih membutuhkan waktu karena pelanggan harus menunggu giliran untuk diambilkan barang yang diinginkannya oleh penjual atau harus berkeliling sendiri mencari apa yang dibutuhkannya dan pelanggan harus menunggu beberapa saat untuk menyelesaikan perbelanjaannya ( mengantri, packing, pembayaran, dll ). pelanggan dari retail konvenional biasanya merupakan pelanggan yang loyal dan usahanya tidak begitu berkembang karena jaringan usahanya yang tidak luas.

2. Segi Tempat
Pada e-commerce, tidak dibutuhkan banyak tempat dan benda lain untuk mendisplay barang - barang. Cukup dengan mendisplay foto dan keterangan singkat tentang barang dan bisa di-post ke jejaring sosial. Dan foto tersebut sudah bisa dilihat oleh banyak orang dari berbagai daerah di belahan dunia, contoh: pada website sebuah perusahaan batik, pihak perusahaan tidak perlu menghabiskan banyak tempat untuk mendisplay hasil produksi mereka dan perusahaan tidak perlu repot untuk mengurus resiko dari kain batik yang dipajang ( warna cepat pudar karena terpapar sinar matahari, terkena air hujan saat staff perusahaan sedang sibuk dengan urusan lain, dan lain lain ). Sedangkan retail konvensional lebih banyak menghabiskan tempat untuk mendisplay hasil produksinya, pekerjaan dalam perusahaan menjadi lebih banyak karena akan disibukkan dengan pembersihan tempat display produk, penjagaan di setiap counter produk untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan, seperti perusakan, pencurian, dan lain - lain. 

3. Segi Biaya dan Tenaga
Pada e-commerce, biaya lebih dapat ditekan karena dari segi penggunaan sumber daya manusia dan tenaganya yang minim sehingga perusahaan lebih bisa menekan sejumlah biaya seperti menekan biaya gaji karyawan, uang lembur, insentif, menekan biaya dan bisa menekan sumber daya yang lain seperti listrik, air, dan lain - lain. Dan bagi pelanggan, e-commerce akan memudahkan perbelanjaanya karena banyak produk dapat dicari dengan cepat, ketersedian dan informasinya yang lengkap dan mudah, sehingga menghemat waktu dan biaya yang dikelurkan pelanggan, Sedangkan pada retail konvensional, biaya yang dibutuhkan lebih banyak, karena retail konvensional membutuhkan lebih banyak tenaga manusia untuk menjaga counter, biaya pemeliharaan kebersihan toko dan perusahaan, dan  lain sebagainya. Pada sisi konsumen, retail konvensional akan menghabiskan waktu dan biaya yang dimiliki pembeli, karena pembeli harus memilih dan mencari barang yang diinginkannya dengan dirinya sendiri.

4. Segi Waktu
Pada e-commerce, pelanggan bisa mengakses suatu website atau situs yang diinginkannya kapanpun dan dimanapun asalkan bisa terhubung dengan intenet, sehingga pada sudut pandang pedagang, ini akan meningkatkan keuntungannya karena prinsipnya toko yang selalu terbuka jelas terlihat lebih nyaman dan memudahkan. Sedangkan  pada retail konvensional, toko atau usaha yang memiliki jam kerja yang terbatas akan menyulitkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhannya dan keuntungan dari usaha konvensional itu akan terbatas. 

5. Segi Komunikasi
Pada e-commerce, komunikasi antara perusahaan dengan pelanggan akan terjalin dengan baik meskipun tanpa tatap muka, karena pelanggan dari berbagai daerah dibelahan dunia yang mengakses suatu website akan bisa menyampaikan kesan, pertanyaan, dan keluhannya.  Sedangkan pada retail konvensional komunikasi yang bisa dilakukan antara pelanggan dengan perusahaan sangat terbatas, hanya saat melakukan transaksi saja dan komunikasi yang dijalin pun hanya dengan orang - orang yang terbatas karena jangkuan usahanya tidak luas

Sumber : http://kinan2929.blogspot.com/2015/06/perbedaan-e-commerce-dengan-retail.html

perbedaan MLM dengan money game



  1. MLM : Sudah dimasyarakatkan dan diterima hampir di seluruh dunia
    Money Game: Sudah banyak negara yang melarang dan menindak perusahaan dengan system ini, bahkan pengusahanya diciduk pihak yang berwajib
    NB: di Indonesia money game selalu berkedok dengan SIUP/Surat Izin Perdagangan, padahal sepantasnya juga terdaftar di APLI.
  2. MLM : Berhasil meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan para anggotanya dari level atas sampai level bawah.
    Money Game : Hanya menguntungkan bagi orang-orang yang pertama atau lebih dulu bergabung sebagai anggota, atas kerugian yang mendaftar belakang
    NB: Pada MLM terbuka kemungkinan seorang downline menyalip upline diatasnya berdasarkan omset jaringan yg dibinanya. Tapi karena enggak semua orang punya bakat dagang, ya susah mas broo.
  3. MLM : Keuntungan/keberhasilan Mitra Usaha ditentukan dari hasil kerja dalam bentuk penjualan/pembelian produk/jasa yang bernilai dan berguna untuk konsumen.
     Money Game : Keuntungan/keberhasilan anggota ditentukan dari seberapa banyak member tersebut merekrut orang lain yang menyetor sejumlah uang sampai terbentuk satu format piramida.
  4. MLM : Keuntungan/keberhasilan Mitra Usaha ditentukan dari hasil kerja dalam bentuk penjualan/pembelian produk/jasa yang bernilai dan berguna untuk konsumen.
    Money Game : Keuntungan/keberhasilan anggota ditentukan dari seberapa banyak member tersebut merekrut orang lain yang menyetor sejumlah uang sampai terbentuk satu format piramida.
  5. MLM : Biaya pendaftaran menjadi anggota tidak terlalu mahal, masuk akal dan imbalannya adalah Starter Kit yang senilai. Biaya pendaftaran tidak dimaksudkan untuk memaksakan pembelian produk dan bukan untuk mencari untung dari biaya pendaftaran
    Money Game : Biaya pendaftaran anggota sangat tinggi, biasanya disertai dengan produk-produk yang jika dihitung harganya menjadi sangat mahal (tidak sesuai dengan
    produk sejenis yang ada di pasaran). Jika seorang anggota lebih banyak merekrut orang lain, maka barulah ybs mendapatkan keuntungan, dengan kata lain keuntungan didapat dengan merekrut lebih banyak anggota, bukan dengan penjualan yang lebih banyak.
  6. MLM : Keuntungan yang didapat Mitra Usaha dihitung berdasarkan hasil penjualan dari setiap anggota jaringannya
    Money Game : Keuntungan yang didapat anggota dihitung berdasarkan sistem rekruting sampai terbentuk format tertentu.
    NB: di MLM jumlah bonus ditentukan oleh jumlah omset penjualan jaringan yg dibina, karenanya di MLM harus ada tutup point pada periode tertentu. Di Money Game bonusnya dihitung bukan berdasarkan transaksi VPay, tapi rekrutmen member. 7 .MLM : Jumlah orang yang direkrut anggota tidak dibatasi, tetapi dianjurkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
     Money Game: Jumlah anggota yang direkrut dibatasi. Jika ingin merekrut lebih banyak lagi, ybs harus menjadi anggota (membeli kavling) lagi.
  7. MLM : Jumlah orang yang direkrut anggota tidak dibatasi, tetapi dianjurkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
    Money Game: Jumlah anggota yang direkrut dibatasi. Jika ingin merekrut lebih banyak lagi, ybs harus menjadi anggota (membeli kavling) lagi.
  8. MLM: Setiap Mitra Usaha sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang menumpuk barang (Inventory Loading) karena di dalam jualan langsung yang terpenting adalah produk yang dibeli bisa dipakai dan dirasakan khasiat/kegunaannya oleh konsumen
    Money Game: Setiap anggota dianjurkan untuk menjadi anggota berkali-kali dimana setiap kali menjadi anggota harus membeli produk dengan harga yang tidak masuk akal. Hal ini menyebabkan banyak sekali anggota yang menimbun barang dan tidak dipakai.
  9. MLM : Program pembinaan Mitra Usaha sangat diperlukan agar didapat anggota yang berkualitas tinggi.
    Money Game : Tidak ada program pembinaan apapun juga, karena yang diperlukan hanya rekruting saja.
  10. MLM : Pelatihan produk menjadi hal yang sangat penting, karena produk harus dijual sampai ke tangan konsumen.
    Money Game : Tidak ada pelatihan produk, sebab komoditas hanyalah rekrut keanggotaan. Produk dalam sistem ini hanyalah suatu kedok saja.
  11. MLM : Setiap up line sangat berkepentingan dengan meningkatnya kualitas dari para downlinenya, kesuksesan seorang Mitra Usaha dapat terjadi jika downlinenya sukses. Keberhasilan upline ikut ditentukan dari keberhasilan down line.
    Money Game: Para up line hanya mementingkan rekruting orang baru saja. Apakah downline berhasil atau tidak, bukanlah merupakan perhatian dari upline.
    NB: setelah daftar join via web, saya gak yakin upline pemilik web tsb akan intens menjalin hubungan dengan anda sebagai tanggung jawab.
  12. MLM : Merupakan salah satu peluang berusaha yang baik dimana setiap Mitra Usaha harus terus melakukan pembinaannya untuk jaringannya. Tidak bisa hanya menunggu
    Money Game : Bukan merupakan suatu peluang usaha, karena yang dilakukan lebih menyerupai untung-untungan , dimana yang perlu dilakukan hanyalah membeli kavling? dan selanjutnya hanyalah menunggu.

Sumber : https://www.bersosial.com/threads/perbedaan-mlm-dan-money-game.9253/